Thursday, 9 October 2008

TURBULENSI RASA


8 Tahun sudah rasa Q ini bersarang dalam gua tak bernama..
Bahkan pada siapa Aq berharap Aq pun sudah lupa.

Ahh, rasa Q ini benar-benar jadi hampa...!

Telah coba Q daki lembah hatinya
Tak hanya peluh di tubuh tapi juga air mata mengiringi,
Namun itu tak membuatnya bergeming.
Ia tetap diam...

Telah Q telusuri lorong batinnya,
Bukan hanya bergulat resah bahkan Aq pun pernah bersimbah darah,
Tapi itu tak menjadikannya luluh.
Ia masih saja bungkam...

Hatinya tak lagi bisa Q tatap jelas,
Terlalu dalam...
Sama seperti jurang curam di tengah lembah pekat.
Sama sekali tak terlihat.

Sudah Q tapaki jalan nafasnya,
Sudah Q susuri pelataran jiwanya..
Sudah pula Q jelajahi ruang hidupnya,
Dan akhirnya yang ada hanyalah kata ,”Sudah!,
Sudahi saja semuanya...karena kini dia sudah tak ada!”

Wednesday, 8 October 2008

Untuk Malam yang Merindukan Rembulan

Malam ini menyiksa Q dengan kerinduan
Kerinduan Q pada sang rembulan
Aq ingin matahari tak terbit lagi
Biarlah gelap, dan Aq bersama rembulan Q
Aq tahu, semua terlambat
Dan tak mungkin bagi Q maju lagi
Tapi, izinkanlah Aq berharap
Berharap bahwa bulan tak bersembunyi lagi
Seandainya Aq bisa menerjemahkan kerinduan ini
Aq akan ungkapkan ia dengan kata yang terbaik yang ingin Q ucap
Aq ingin menatapnya dengan mata ini, malam ini
Lalu Q kubur diri Q dalam-dalam di tengah sahara
Agar sang bulan tak melihat Q menatapnya dengan rindu
Agar ia tak malu untuk benderang lagi
Dan Aq terbunuh bersama rindu dan air mata kehilangan
Bukan untuk kali ini, tapi Q harap inilah yang terakhir kali
Terakhir bagi Q
Merasakan kerinduan malam ini
Dan bintang bisa menertawai Q lagi