Monday, 22 September 2008

Semoga Bermanfaat Buat Semua

Sering kali Aq berkata, ketika orang memuji milik Q,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobil Q hanya titipan Nya,

bahwa rumah Q hanya titipan Nya,

bahwa harta Q hanya titipan Nya,

bahwa putra Q hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa Aq tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan pada Q ?

Untuk apa Dia menitipkan ini pada Q ?

Dan kalau bukan milik Q, apa yang harus Q lakukan untuk milik Nya ini ?

Adakah Aq memiliki hak atas sesuatu yang bukan milik Q ?

Mengapa hati Q justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, Q sebut itu sebagai musibah,

Qsebut itu sebagai ujian, Q sebut itu sebagai petaka,

Q sebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika Aq berdoa,

Q minta titipan yang cocok dengan hawa nafsu Q

Aq ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas,

dan Q tolak sakit, Q tolak kemiskinan,

Seolah semua "derita" adalah hukuman bagi Q.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dari Q, dan Nikmat dunia kerap menghampiri Q.

Q perlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Q minta Dia membalas "perlakuan baik Q", dan menolak keputusanNya yang

tak sesuai keinginan Q,

Ya ALLAH, padahal tiap hari Q ucapkan, hidup dan mati Q hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

No comments: